Statistic

Visits today: 121
Visits yesterday: 108
Visits month: 871
Visits total: 138774
Max.monthly visits: 7457
Occurred: Sep 2010
Pages this month: 6271
Pages total: 868895
Data since: Apr 2007
Advertisement
Home arrow Artikel arrow HARMONISASI LANGKAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN NASIONAL
HARMONISASI LANGKAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN NASIONAL PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 16 November 2009


Oleh: Abdul Ghafur

Staf Subdit Program Direktorat Tenaga Kependidikan - PMPTK

Tanggal 29 Oktober 2009 lalu merupakan moment penting bagi dunia pendidikan nasional. Bagaimana tidak, pada hari itu insan-insan pendidikan yang memiliki kapasitas besar dalam menentukan arah pendidikan nasional bertemu dan membicarakan masalah strategi peningkatan mutu pendidikan nasional ke depan. Mereka adalah para pejabat eselon 1 seperti Dirjen PMPTK, Dr. Baedhowi dan Dijren Mandikdasmen, Prof. Suyanto, Ph.D. Lalu eselon 2 dari Dijten PMPTK seperti Direktur Tenaga Kependidikan, Surya Dharma, Ph.D; Direktur Pembinaan Diklat, Sumarna Surapranata, Ph.D; dan Direktur Profesi Pendidik, Drs. Achmad Dasuki, MM. Dari Ditjen Mandikdasmen seperti Sekretaris Ditjen Mandikdasmen, Dr. Bambang Indriyatno; dan Direktur Pembinaan SMP, Didik Suhardi, SH, M.Si. Kemudian para pejabat eselon 3 dan 4 dari dua Ditjen tersebut.


Selain itu, hadir pula pejabat dari Departemen Agama Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Dr. H. Moh. Ali, MA; Direktur Pendidikan Madrasah, Drs. Firdaus, M.Pd; Kepala Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan, Drs. Asmu’i, M. Hum; Kasubdit Hubungan Internasional, Drs. Rohmat; Kasubdit Ketenagaan, Drs. Zubaidi Yusuf, M.Pd; dan Kabid Penyelenggaraan Diklat, Drs. Aden Daenuri, M.Ed. Hadir pula unsur Bappenas, yaitu: Dr. Ir. Taufik Hanafi, MUP, Direktur Pendidikan dan Agama dan Nina Sardjunani, MA, Deputi SDM.

 

 

 

Belum lagi hadirnya lembaga-lembaga donor yang concern dengan dunia pendidikan seperti AusAID, Unicef, USAID, Save The Children, Asian Development Bank (ADB), CIDA, DFID, European Commission (EC), GTZ, ILO, NZAID (New Zaeland AID), UNDP, World Bank, dan JICA (Japan International Cooperatioan Agency). Selain itu, hadir pula perwakilan-perwakilan luar negeri untuk Indonesia seperti Royal Netherland Embassy, Japan Embassy, JICA Indonesia Office.

 

 

 

Pertemuan tersebut terangkum dalam judul Education Development Harmonization Forum. Forum ini bertujuan untuk berbagi informasi tentang strategi dan pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan proses pembelajaran siswa pada pendidikan dasar. Selain itu, berupaya menjadikan program-program peningkatan mutu pendidikan kedalam rencana pengembangan pendidikan nasional dan atau kebijakan nasional dan atau proyek-proyek bantuan. Terakhir mencoba menjembatani isu-isu dan tantangan-tantangan dunia pendidikan kedalam peningkatan kualitas pendidikan nasional.

 

 

 

Tema sentral yang diangkat adalah How to Improve Student's Learning Process or Teacher's Professional Development. Memang tema tersebut hadir karena sudah beberapa tahun ini Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama, dan JICA telah intens mengembangkan peningkatan mutu pendidikan melalui pengembangan proses belajar siswa dan profesionalitas mengajar guru. Kerjasama teknis tersebut dimulai pada tahun 1998 dengan nama REDIP dan IMSTEP. Konsentrasi memang berbeda untuk 2 nama itu. REDIP lebih fokus kepada peningkatan manajemen pendidikan dan IMSTEP kepada peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan lesson study. Lalu, tahun 2006 IMSTEP berubah nama menjadi SISSTEMS. Khusus tahun 2009 ini, program kerjasama teknis ini berubah nama menjadi PELITA yang berkonsentrasi pada 2 hal pokok diatas.

 

 

 

Pertemuan diawali dengan laporan singkat dari Direktur Tenaga Kependidikan, Surya Dharma, Ph.D. Dalam laporan singkat itu Direktur Tenaga Kependidikan mengulas sedikit tentang latar belakang program PELITA yang mendiseminasikan lesson study di 3 daerah target baru, yakni Kota Padang – Sumbar, Kota Banjar Baru – Kalsel, Kabupaten Minahasa Utara – Sulut. Lalu, perkembangan pelaksanaan rangkaian kegiatan implementasi lesson study seperti pelatihan-pelatihan untuk kepala sekolah dan fasilitator MGMP. Pelatihan kepada kepala sekolah tentang apa itu lesson study, bagaimana lesson study bekerja untuk meningkatan mutu pembelajaran di sekolah,  bagaimana meningkatkan peran kepala sekolah dalam penjaminan kualitas yang berkesinambungan dalam kegiatan belajar mengajar, serta untuk meningkatkan pemahaman tentang PSBM (Pengembangan Sekolah Berbasis Masyarakat). Kurang lebih 400 kepala sekolah dari 3 daerah target lama dan baru telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan pelatihan ini. Kegiatan ini pun berlanjut dalam 3 seri di tahun 2009 ini.

 

 

 

Untuk mendukung pelaksanaan implementasi pelaksanaan lesson study di 3 daerah target baru dan lama tersebut, selain yang berpusat pada sekolah (lebih lanjut disebut LSBS – Lesson Study Berbasis Sekolah), dikembangkan pula yang berpusat pada MGMP yang saat ini dikhususkan pada bidang Matematika dan IPA. Sebagai upaya pendukung LSBS ini, dilakukan pelatihan kepada fasilitator guru. Pelatihan yang disebut MGMP Facilitator Training ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang lesson study dan menerangkan lebih teknis bagaimana lesson study dilakukan seperti memahami bagaimana cara melaksanakan buka kelas (open class), memahami bagaimana cara melaksanakan refleksi, dan bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran mereka sehari-hari. Pelatihan MGMP ini dilaksanakan dalam 3 seri pada tahun 2009 dan kurang lebih 240 orang fasilitator guru berpartisipasi aktif dalam pelatihan ini.

 

 

 

Sejatinya, implementasi lesson study ini berusaha untuk membentuk budaya saling memenuhi segala kekurangan. Oleh karena itu, rangkaian kegiatan selanjutnya adalah pelaksanaan lesson study pada homebase-homebase MGMP. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 10 kali di setiap homebase-nya dan melibatkan 1.200 guru IPA dan Matematika di 3 daerah target baru. Kegiatan ini disebut MGMP Activities.

 

 

 

Untuk lebih memahami implementasi lesson study yang lebih orisinil, JICA telah mengundang 28 orang pelaku implementasi lesson study dari unsur pejabat di Ditjen PMPTK, Ditjen Dikti, Depag RI, Widyaiswara LPMP, Pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota terkait yang terlibat pada program PELITA, dan Dosen dari universitas di 3 daerah target baru untuk mengikuti pelatihan di Jepang. Pelatihan tersebut sangat bermanfaat dan telah dilaksanakan dengan baik. Untuk gelombang berikutnya akan diberangkatkan 26 orang dari unsur yang sama pada tanggal 29 November 2009.

 

 

 

Untuk lebih menasionalkan Lesson Study, JICA dan Ditjen PMPTK telah memberikan pelatihan lesson study tingkat nasional kepada widyaiswara LPMP, P4TK, Universitas, Guru, Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Widyaiswara dari Balai Diklat Keagamaan Depag. Total telah ditraining sebanyak 480 orang. Nantinya orang-orang yang telah ditraining ini akan menjadi narasumber potensial yang akan mendiseminasikan lesson study di sekolah-sekolah.

 

 

 

Selain nasional, pada level propinsi juga telah dilaksanakan pelatihan tentang lesson study. Bertempat di tiap-tiap LPMP mereka dilatih bagaimana mengelola dan melaksanakan lesson study di daerah mereka. Mereka dipersiapkan untuk mendampingi sekolah piloting lesson study hasil dari pemberian blockgrant peningkatan kompetensi pengawas dan kepala sekolah didaerah tertinggal. Tercatat sebanyak 203 sekolah SMP telah menjadi piloting lesson study pada tahun 2009. Alangkah baiknya jika pada tahun-tahun yang akan datang tetap dipelihara.

 

 

 

Pada sesi yang menghadirkan Sekretaris Ditjen Mandikdasmen, dipaparkan tentang prediksi kebijakan pendidikan nasional untuk tahun 2009 – 2014. Bapak Bambang Idriyatno mengambil asumsi bahwa kebijakan yang harus diambil adalah kebijakan yang mempertimbangkan poin-poin apa saja yang telah berhasil dilakukan pada tahun periode sebelumnya, yaitu: 2004 – 2009 dan poin-poin yang belum terselesaikan pada periode tersebut dan harus dilanjutkan di periode selanjutnya, yaitu 2010 – 2014. Determinannya jelas bahwa kebijakan tersebut haruslah mendukung daya saing bangsa dan peningkatan kesejahteraan warga negara.

 

 

 

Selanjutnya, Bapak Bambang Indriyatno mencoba menterjemahkan pidato politik Presiden RI pada saat pelantikannya, yaitu terbagi dalam 3 ranah: pertama, Kesejahteraan (Prosperity) yang dalam dunia pendidikan diartikan sebagai kesejahteraan pedagogis yang menjamin setiap peserta didik jenjang pendidikan dasar dan menengah mendapat pelayanan pendidikan bermutu sesuai dengan minat dan bakatnya. Kedua, Demokrasi (Democracy) yang dalam dunia pendidikan mempunyai 2 konotasi, yaitu: (a) pelayanan pendidikan non-diskriminatif dan non-partisan baik berdasarkan pada latar belakang agama, budaya, maupun ekonomi; dan (b) lulusan satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah mempunyai sikap demokratis. Ketiga, Keberlanjutan (Continuity) yang dalam dunia pendidikan juga memiliki 2 konotasi, yaitu: (a) Keberlanjutan memberi kesempatan kepada semua peserta didik untuk melanjutkan sampai jenjang pendidikan tertinggi sesuai dengan minat dan bakatnya, dan (b) penyediaan sarana dan prasarana secara berkelanjutan untuk menjamin pelayanan pendidikan yang memadai.

 

 

 

Sessi-sessi selanjutnya banyak digawangi oleh JICA yang menjelaskan tentang fokus utama yang mereka kerjakan selama ini dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional. Mereka fokus terhadap bagaimana lesson study bekerja untuk tujuan tersebut. Ada testimoni yang dikeluarkan oleh pelaku langsung implementasi lesson study. Mereka dari universitas-universitas partner seperti Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung – Jawa Barat, Universitas Negeri Yogyakarta - DI Yogyakarta, dan Universitas Negeri Malang – Jawa Timur. Selain itu, unsur dinas seperti: Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul, Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan. Hebatnya pula dari unsur sekolah yang berhasil memberikan presentasi yang memukai, yaitu: Dra. Anik Prihati – Kepala Sekolah SMP 1 Sewon, Bantul dan Muchlis, S.Pd – Guru SMP Negeri 2 Grati, Pasuruan.

 

 

 

Menurut Naomi Takasawa, selaku Project Manager dari JICA dengan ini diharapkan seluruh lembaga donor yang selama ini telah bekerjasama dengan instansi pemerintah yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu pendidikan nasional dapat menyelaraskan langkah sehingga tidak ada program yang overlapping. Sebagai contoh JICA menelurkan program PELITA dan lembaga donors lain menelurkan program lainnya. Ketika diteliti dengan seksama ternyata pendekatan yang digunakan setali tiga uang. Masalahnya bukan saja di unsur pusat yang mengambil keputusan besar, dari teknis pelaksanaan dilapangan akan menimbulkan kebingungan-kebingunan yang menciptakan stigma negatif.

 

 

 

Rasanya Naomi Takasawa memang benar. Nilai bantuan yang besar dari lembaga donor sudah semestinya diharmonisasikan sehingga tercipta kesan kompak dan efektif mencapai sasaran. Saya teringat dengan ajaran dalam Al Qur’an yang menekankan sekali perlunya pengorganisasian gerak guna pencapaian sasaran. Mudah-mudahan......

 
< Prev   Next >