| HARMONISASI LANGKAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN NASIONAL |
|
|
|
| Written by Administrator | |
| Monday, 16 November 2009 | |
|
Oleh: Abdul Ghafur Staf Subdit Program Direktorat Tenaga Kependidikan - PMPTK Tanggal 29 Oktober 2009 lalu merupakan
moment penting bagi dunia pendidikan nasional. Bagaimana tidak, pada hari itu
insan-insan pendidikan yang memiliki kapasitas besar dalam menentukan arah
pendidikan nasional bertemu dan membicarakan masalah strategi peningkatan mutu
pendidikan nasional ke depan. Mereka adalah para pejabat eselon 1 seperti
Dirjen PMPTK, Dr. Baedhowi dan Dijren Mandikdasmen, Prof. Suyanto, Ph.D. Lalu
eselon 2 dari Dijten PMPTK seperti Direktur Tenaga Kependidikan, Surya Dharma,
Ph.D; Direktur Pembinaan Diklat, Sumarna Surapranata, Ph.D; dan Direktur
Profesi Pendidik, Drs. Achmad Dasuki, MM. Dari Ditjen Mandikdasmen seperti
Sekretaris Ditjen Mandikdasmen, Dr. Bambang Indriyatno; dan Direktur Pembinaan
SMP, Didik Suhardi, SH, M.Si. Kemudian para pejabat eselon 3 dan 4 dari dua
Ditjen tersebut. Selain itu, hadir pula pejabat dari Departemen
Agama Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Dr. H. Moh. Ali, MA; Direktur Pendidikan
Madrasah, Drs. Firdaus, M.Pd; Kepala Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan, Drs.
Asmui, M. Hum; Kasubdit Hubungan Internasional, Drs. Rohmat; Kasubdit
Ketenagaan, Drs. Zubaidi Yusuf, M.Pd; dan Kabid Penyelenggaraan Diklat, Drs.
Aden Daenuri, M.Ed. Hadir pula unsur Bappenas, yaitu: Dr. Ir. Taufik Hanafi,
MUP, Direktur Pendidikan dan Agama dan Nina Sardjunani, MA, Deputi SDM. Belum lagi hadirnya lembaga-lembaga donor yang
concern dengan dunia pendidikan seperti
AusAID, Unicef, USAID, Save The Children,
Asian Development Bank (ADB), CIDA,
DFID, European Commission (EC), GTZ,
ILO, NZAID (New Zaeland AID), UNDP, World Bank, dan JICA (Japan International Cooperatioan Agency). Selain itu, hadir pula perwakilan-perwakilan
luar negeri untuk Indonesia seperti Royal
Netherland Embassy, Japan Embassy,
JICA Indonesia Office. Pertemuan tersebut terangkum dalam judul Education Development Harmonization Forum.
Forum ini bertujuan untuk berbagi informasi tentang strategi dan pendekatan
yang digunakan untuk mengembangkan proses pembelajaran siswa pada pendidikan
dasar. Selain itu, berupaya menjadikan program-program peningkatan mutu
pendidikan kedalam rencana pengembangan pendidikan nasional dan atau kebijakan nasional
dan atau proyek-proyek bantuan. Terakhir mencoba menjembatani isu-isu dan
tantangan-tantangan dunia pendidikan kedalam peningkatan kualitas pendidikan
nasional. Tema sentral yang diangkat adalah How to Improve Student's Learning Process or Teacher's
Professional Development. Memang tema tersebut hadir karena sudah beberapa
tahun ini Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama, dan JICA telah
intens mengembangkan peningkatan mutu pendidikan melalui pengembangan proses
belajar siswa dan profesionalitas mengajar guru. Kerjasama teknis tersebut
dimulai pada tahun 1998 dengan nama REDIP dan IMSTEP. Konsentrasi memang
berbeda untuk 2 nama itu. REDIP lebih fokus kepada peningkatan manajemen
pendidikan dan IMSTEP kepada peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan lesson study. Lalu, tahun 2006 IMSTEP berubah
nama menjadi SISSTEMS. Khusus tahun 2009 ini, program kerjasama teknis ini
berubah nama menjadi PELITA yang berkonsentrasi pada 2 hal pokok diatas. Pertemuan diawali dengan laporan singkat
dari Direktur Tenaga Kependidikan, Surya Dharma, Ph.D. Dalam laporan singkat
itu Direktur Tenaga Kependidikan mengulas sedikit tentang latar belakang
program PELITA yang mendiseminasikan lesson
study di 3 daerah target baru, yakni Kota Padang Sumbar, Kota Banjar Baru
Kalsel, Kabupaten Minahasa Utara Sulut. Lalu, perkembangan pelaksanaan
rangkaian kegiatan implementasi lesson
study seperti pelatihan-pelatihan untuk kepala sekolah dan fasilitator
MGMP. Pelatihan kepada kepala sekolah tentang apa itu lesson study, bagaimana
lesson study bekerja untuk meningkatan mutu pembelajaran di sekolah, bagaimana meningkatkan peran kepala sekolah
dalam penjaminan kualitas yang berkesinambungan dalam kegiatan belajar
mengajar, serta untuk meningkatkan pemahaman tentang PSBM (Pengembangan Sekolah
Berbasis Masyarakat). Kurang lebih 400 kepala sekolah dari 3 daerah target lama
dan baru telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan pelatihan ini. Kegiatan ini
pun berlanjut dalam 3 seri di tahun 2009 ini. Untuk mendukung pelaksanaan implementasi
pelaksanaan lesson study di 3 daerah target baru dan lama tersebut, selain yang
berpusat pada sekolah (lebih lanjut disebut LSBS Lesson Study Berbasis Sekolah), dikembangkan pula yang berpusat
pada MGMP yang saat ini dikhususkan pada bidang Matematika dan IPA. Sebagai
upaya pendukung LSBS ini, dilakukan pelatihan kepada fasilitator guru.
Pelatihan yang disebut MGMP Facilitator Training ini bertujuan untuk memberikan
pemahaman tentang lesson study dan menerangkan lebih teknis bagaimana lesson
study dilakukan seperti memahami bagaimana cara melaksanakan buka kelas (open class), memahami bagaimana cara
melaksanakan refleksi, dan bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran mereka
sehari-hari. Pelatihan MGMP ini dilaksanakan dalam 3 seri pada tahun 2009 dan
kurang lebih 240 orang fasilitator guru berpartisipasi aktif dalam pelatihan
ini. Sejatinya, implementasi lesson study ini
berusaha untuk membentuk budaya saling memenuhi segala kekurangan. Oleh karena
itu, rangkaian kegiatan selanjutnya adalah pelaksanaan lesson study pada
homebase-homebase MGMP. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 10 kali di setiap
homebase-nya dan melibatkan 1.200 guru IPA dan Matematika di 3 daerah target
baru. Kegiatan ini disebut MGMP Activities. Untuk lebih memahami implementasi lesson
study yang lebih orisinil, JICA telah mengundang 28 orang pelaku implementasi
lesson study dari unsur pejabat di Ditjen PMPTK, Ditjen Dikti, Depag RI,
Widyaiswara LPMP, Pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota terkait yang terlibat
pada program PELITA, dan Dosen dari universitas di 3 daerah target baru untuk
mengikuti pelatihan di Jepang. Pelatihan tersebut sangat bermanfaat dan telah
dilaksanakan dengan baik. Untuk gelombang berikutnya akan diberangkatkan 26
orang dari unsur yang sama pada tanggal 29 November 2009. Untuk lebih menasionalkan Lesson Study,
JICA dan Ditjen PMPTK telah memberikan pelatihan lesson study tingkat nasional
kepada widyaiswara LPMP, P4TK, Universitas, Guru, Kepala Sekolah, Pengawas
Sekolah, dan Widyaiswara dari Balai Diklat Keagamaan Depag. Total telah
ditraining sebanyak 480 orang. Nantinya orang-orang yang telah ditraining ini
akan menjadi narasumber potensial yang akan mendiseminasikan lesson study di
sekolah-sekolah. Selain nasional, pada level propinsi juga
telah dilaksanakan pelatihan tentang lesson study. Bertempat di tiap-tiap LPMP
mereka dilatih bagaimana mengelola dan melaksanakan lesson study di daerah
mereka. Mereka dipersiapkan untuk mendampingi sekolah piloting lesson study
hasil dari pemberian blockgrant peningkatan kompetensi pengawas dan kepala
sekolah didaerah tertinggal. Tercatat sebanyak 203 sekolah SMP telah menjadi
piloting lesson study pada tahun 2009. Alangkah baiknya jika pada tahun-tahun
yang akan datang tetap dipelihara. Pada sesi yang menghadirkan Sekretaris
Ditjen Mandikdasmen, dipaparkan tentang prediksi kebijakan pendidikan nasional
untuk tahun 2009 2014. Bapak Bambang Idriyatno mengambil asumsi bahwa
kebijakan yang harus diambil adalah kebijakan yang mempertimbangkan poin-poin
apa saja yang telah berhasil dilakukan pada tahun periode sebelumnya, yaitu:
2004 2009 dan poin-poin yang belum terselesaikan pada periode tersebut dan
harus dilanjutkan di periode selanjutnya, yaitu 2010 2014. Determinannya
jelas bahwa kebijakan tersebut haruslah mendukung daya saing bangsa dan
peningkatan kesejahteraan warga negara. Selanjutnya, Bapak Bambang Indriyatno
mencoba menterjemahkan pidato politik Presiden RI pada saat pelantikannya,
yaitu terbagi dalam 3 ranah: pertama,
Kesejahteraan (Prosperity) yang dalam
dunia pendidikan diartikan sebagai kesejahteraan pedagogis yang menjamin setiap peserta didik jenjang pendidikan dasar
dan menengah mendapat pelayanan pendidikan bermutu sesuai dengan minat dan
bakatnya. Kedua,
Demokrasi (Democracy) yang dalam dunia
pendidikan mempunyai 2 konotasi, yaitu: (a) pelayanan
pendidikan non-diskriminatif dan
non-partisan baik berdasarkan pada latar belakang agama, budaya, maupun ekonomi;
dan (b) lulusan satuan
pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah mempunyai sikap demokratis. Ketiga, Keberlanjutan (Continuity)
yang dalam dunia pendidikan juga memiliki 2 konotasi, yaitu: (a) Keberlanjutan
memberi kesempatan kepada semua peserta didik untuk melanjutkan sampai
jenjang pendidikan tertinggi sesuai dengan minat dan bakatnya, dan (b) penyediaan sarana dan prasarana secara berkelanjutan
untuk menjamin pelayanan pendidikan yang memadai. Sessi-sessi selanjutnya banyak digawangi
oleh JICA yang menjelaskan tentang fokus utama yang mereka kerjakan selama ini
dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional. Mereka fokus terhadap bagaimana lesson study bekerja untuk tujuan
tersebut. Ada testimoni yang dikeluarkan oleh pelaku langsung implementasi lesson study. Mereka dari
universitas-universitas partner seperti Universitas Pendidikan Indonesia.
Bandung Jawa Barat, Universitas Negeri Yogyakarta - DI Yogyakarta, dan
Universitas Negeri Malang Jawa Timur. Selain itu, unsur dinas seperti: Dinas
Pendidikan Kabupaten Sumedang, Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul, Dinas
Pendidikan Kabupaten Pasuruan. Hebatnya pula dari unsur sekolah yang berhasil
memberikan presentasi yang memukai, yaitu: Dra. Anik Prihati Kepala Sekolah
SMP 1 Sewon, Bantul dan Muchlis, S.Pd Guru SMP Negeri 2 Grati, Pasuruan. Menurut Naomi Takasawa, selaku Project Manager
dari JICA dengan ini diharapkan seluruh lembaga donor yang selama ini telah
bekerjasama dengan instansi pemerintah yang bertanggung jawab terhadap
peningkatan mutu pendidikan nasional dapat menyelaraskan langkah sehingga tidak
ada program yang overlapping. Sebagai
contoh JICA menelurkan program PELITA dan lembaga donors lain menelurkan
program lainnya. Ketika diteliti dengan seksama ternyata pendekatan yang
digunakan setali tiga uang. Masalahnya bukan saja di unsur pusat yang mengambil
keputusan besar, dari teknis pelaksanaan dilapangan akan menimbulkan
kebingungan-kebingunan yang menciptakan stigma negatif. Rasanya Naomi Takasawa memang benar. Nilai
bantuan yang besar dari lembaga donor sudah semestinya diharmonisasikan
sehingga tercipta kesan kompak dan efektif mencapai sasaran. Saya teringat
dengan ajaran dalam Al Quran yang menekankan sekali perlunya pengorganisasian
gerak guna pencapaian sasaran. Mudah-mudahan...... |
| < Prev | Next > |
|---|



